Pada abad ke-15 orang mulai percaya bahwa bumi itu bulat. Karena asumsi itu pun Christopher Columbus yakin bahwa dengan berjalan ke barat, ia bisa mencapai India. Namun, perkembangan teknologi komunikasi telah membawa bumi kembali menjadi datar. Perbedaan jarak dan waktu bukan masalah.
Thomas L. Friedman, dalam bukunya ”The World is Flat”, membagi globalisasi ke dalam tiga level. Pertama, globalisasi 1.0, negara-negara dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Kedua, globalisasi 2.0, pada masa ini perusahaan-perusahaanlah yang dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang, atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Ketiga adalah globalisasi 3.0, pada masa ini individu-individu dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup.
Pada globalisasi 3.0 terjadi perpindahan dari globalisasi industri ke globalisasi individual, karena pada masa ini publik sebagai individu dapat berinteraksi secara global. Selanjutnya, lahirlah kelas menengah baru yang merupakan hasil dari pendataran dunia akibat globalisasi 3.0.
Kelas menengah baru adalah mereka yang spesial, dispesialkan dan menetap. Mereka yang mengkolaborasikan dengan orang lain atau mengorkestrasikan dalam dan antar perusahaan. Seorang manajer yang bekerja 24/7/7 – 24 jam sehari, 7 jam seminggu dan 7 benua – adalah contoh individu kelas menengah baru. Dua ciri lain dari kelas menengah baru adalah: pensintesa dan penjelas yang hebat. Pensintesa yang baik membutuhkan penjelas yang baik – yang bisa menjelaskan kompleksitas secara sederhana sehingga dapat melihat peluang dengan baik.
Para ahli teori ekonomi umumnya mengkonseptualisasikan barang dan jasa dunia ke dalam wadah ”dapar diperdagangkan” (tradable) dan tidak dapat diperdagangkan (non-tradable). Pemikiran semacam itu sekarang sudah dianggap ketinggalan jaman karena perkembangan teknologi semakin menghapuskan batas antara ”tradable” dan ”non-tradable”. Semakin lama, semakin banyak barang dan dan jasa yang bisa diperdagangkan.
Perubahan ekonomi global tersebut, kemudian menghasilkan orang-orang yang tak terjamah. Friedman membuat tiga kategori untuk mereka ”yang tak terjamah” – untouchable – dalam dunia yang datar ini. Pertama, orang yang istimewa dan istimewakan. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan fungsinya dengan istimewa atau diistimewakan sehingga tidak pernah bisa di-outsource, diotomatisasikan atau diperdagangkan. Contohnya, Michael Jordan, J. K Rowling dan Madonna.
Kedua, mereka adalah orang yang benar-benar ”terlokalisasi” dan ”menetap”. Mereka tak terjamah karena pekerjaan mereka harus dilakukan di tempat yang spesifik, dan mereka yang menetap. Contohnya, tukang pijat, tukang cukur perawat dan tukang masak di dapur. Kategori ketiga bagi mereka yang tak terjamah adalah orang-orang di banyak pekerjaan yang dulunya merupakan pekerjaan kelas menengah, seperti lini perakitan, imput data, dan analisis sekuritas.
Semakin dunia menjadi datar, semakin banyak yang bisa didigitalisasi atau di-oursource, seperti yang dikatakan Nandan Nilekani, CEO Infosys, bahwa dalam dunia yang datar ada yang disebut pekerjaan yang menjamur ”fungible” dan tidak menjamur ”unfungible”. Pekerjaan yang mudah diotomatisasi, didigitalisasi dan di-outsource adalah ciri pekerjaan yang menjamur. Orang-orang yang tak terjamah adalah mereka yang melakukan pekerjaan ”unfungible”.
Jika ingin selamat di dunia datar harus memiliki pengetahuan, keterampilan, ide dan motivasi diri yang tepat. Tidak bisa menjadi orang yang sedang-sedang saja (mediocre). Lalu, jika ingin survive juga harus menjadi orang yang tak terjamah — ”untouchable” – yang berarti tidak dapat di-outsource, didigitalisasi atau diotomatisasikan. Berarti kita harus memiliki pekerjaan kelas menengah baru yang tidak menjamur.