Justice and Injustice

Who wants to be poor? Nobody! Being poor are being sacrificed by the less poor societies. Injustice might be the core of all problems on earth. Once I though about injustice, I remember about the binary system. Injustice is the complementary of justice. So, the world is just half of the world if it is just consist one of them, injustice and justice. Then, I though if that is so, world will never free from poverty as is complement the existence of wealth. And I think so, the injustice will continuing to exist till the end of the world. If there are no injustice and justice, there will be no wrong and right and there is no heaven and hell.

Chapter 4: Commons among the Wired

The Future of Ideas

Lawrence Lessig

Wired adalah sebutan bagi mereka-mereka yang terkoneksi, atau bisa berarti semua hal yang digital. Wired juga merupakan sebutan bagi mereka-mereka yang mengerti potensi yang dimiliki suatu tempat bernama ”cyberspace” dan yang membuat potensi-potensi itu menjadi kenyataan. Jika masih ada grup yang disebut “connected”, mereka adalah orang-orang yang membangun dan membangun kembali internet sampai kepada bentuknya yang sekarang, bab keempat dari buku Lawrence Lessig, The Future of Ideas, adalah tentang mereka, about the commons among them, and about the commons built.

Dalam bab pertama buku ini disebutkan bahwa commons dan layer adalah kekuatan yang membangun blok yang pada akhirnya akan membantu memunculkan efek internet terhadap masyarakat. Lessig mendefinisikan commons sebagai in joint use or possession; to be held or enjoyed equally by a number of persons. Ini berarti commons bebas dinikmati oleh orang-orang, dengan kata lain hal yang bersifat commons bebas diakses oleh semua orang. Sedangkan layer (lapisan) adalah lapisan-lapisan yang terdapat dalam sistem komunikasi. Ada tiga layer dalam sistem komunikasi: physical layer, logical atau code layer dan content layer.

Dalam bab ini commons yang banyak dibicarakan ada pada layer content. Commons mempunyai tiga aspek: commons of code – software yang bisa diakses semua orang yang digunakan untuk membangun internet dan aplikasi-aplikasi lain yang ada di internet, common of knowledge – pertukaran bebas antara ide dan informasi tentang bagaimana kode bekerja di internet dan commons of innovation – kesempatan untuk tetap terbuka bagi semua orang agar dapat membangun dan berinovasi di platform yang telah ada.

Sebelum masuk ke pembahasan lebih lanjut, kita kenali dulu apa yang dimaksud dengan kode. Kode umumnya ditulis oleh manusia, walaupun sebgian kecil ada yang ditulis komputer. Manusia menulis source code dan komputer menjalankan object code. Di antara dua kode itu terjadi transfer makna, kode yang dimengerti oleh manusia kemudian dimengerti dan dijalankan oleh mesin.

Pada masa awal-awal ditemukannya komputer, software terintergrasi dengan komputer, dan bukan menjadi bagian yang terpisah sehingga software yang ada di suatu komputer tidak bisa digunakan di komputer lain. Semenjak produk mulai beragam dan persaingan semakin ketat, kode-kode komputer (software) tidak lagi dapat diakses secara bebas. Hal ini mendorong Richard Stallman mendirikan Free Software Foundation pada tahun 1985 untuk mendukung commons for code. Yayasan ini berhasil meluncurkan proyek sistem operasi GNU sebagai tandingan UNIX yang secara eksklusif telah dimiliki AT&T.

Sebagian proyek yang telah dibuat oleh Stallman kemudian dihubungkan dengan inti dari sistem operasi yang dibuat oleh Linus Torvalds, seorang mahasiswa Finlandia. Akhirnya, impian Stallman untuk membuat software yang terbuka dan bebas terwujud dengan hadirnya Linux. Linux adalah “open code project”, sebuah software yang membawa ikut serta kode asalnya, dan menuntut agar kode asalnya tersebut tetap dapat diakses orang lain. Kode-kode tersebut dapat dilihat dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pengguna tanpa menghilangkan kode awal yang telah ada.

Selain Linux, proyek open code lain adalah Apache, yang kemudian menjadi server nomor satu di dunia. Sampai saat ini, dua pertiga dari server yang ada di world wide web adalah server Apache. Linux dan Apache menjadi proyek open code yang paling unggul. Kode-kode bebas ini adalah yang kemudian membangun a commons in knowledge. Kode-kode tersebut yang ada pada content layer membangun a commons in innovation, sehingga internet menjadi seperti yang sekarang ini.

Kesimpulan dari bab ini ada dua. Pertama, memperkenalkan ide dari open code dan mendemonstrasikan bagaimana kode ini beroperasi pada content layer untuk menginovasi orang lain mengembangkannya. Kedua, fitur dari open code tidak hanya sebatas kode tetapi lebih kompleks ketika mempertimbangkan hukum hak cipta.

Siapa yang kamu dengar? Malaikat atau Setan?

Pirates of the Digital Millennium (Gantz and Rochester)

Chapter 9

Angel on My Shoulder: What’s in it For Me?

Page: 227-232

Bagi sebagian mahasiswa download menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari download yang bersifat akademis seperti download tugas kuliah, materi kuliah dsb, sampai download yang bersifat non-akademis misalnya musik, software, bahkan film. Tetapi, apakah download itu legal

Bab 9 dari buku berjudul Pirates of the Digital Millenium karangan Gantz dan Rochester membahas tentang legal atau tidaknya download. Siapa yang sebenarnya menjalankan pembajakan digital? Teknologi atau manusia? Teknologi seperti MP3 Player, MPEG4 software, DVD Burners, dan Disk berkapasitas multigiga adalah teknologi yang dapat digunakan untuk membuat proses download semakin mudah. Jika kita mengikuti kata setan, maka download itu sah-sah saja. Toh memang teknologi ada untuk itu.

Namun, apabila kita lebih mendengar bisikan malaikat, maka kita dilarang untuk men-download karena melanggar hak cipta orang lain. Dan jika ketahuan bisa kena hukuman dan berbagai sangsi yang berat. Motivasi seseoranh untuk men-download tidak sederhana, di antaranya dipengaruhi oleh budaya, sikap terhadap perusahaan besar, kemalasan, kenyamanan, dan perasaan benar atau salah.

Di setiap survey atau diskusi fokus grup yang diadakan oleh penulis ini, jawaban mayoritasnya adalah download itu legal. Tetapi tidak pernah ada suara mutlak bahwa download itu legal. Tetap saja ada orang yang mengganggap download sebagai perbuatan yang salah. Yang ingin dibahas dalam bab ini bukan bahwa download itu salah atau tidak, tetapi lebih kepada sesalah apakah (how wrong) tindakan men-download itu? Karena faktanya, kebanyakan orang mengetahui bahwa download itu salah tetapi tetap melakukannya.

Untuk mengetahui seberapa salah, dilakuakan survey yang memberikan sejumlah indicator dari mulai “most wrong” dan “least wrong”, dan download mendekati “least wrong”. Dari survey tersebut dapat disumpulkan bahwa dibandingkan tindakan-tindakan lain seperti mencuri atau menyontek saat ujian, maka download bukanlah tindakan yang terlalu salah.

Ada kebingungan etis dalam menyikapi isu download. Sebagian responden yang disurvey menganggap download bukan lah tidakan yang tidak etis. “Everyone is, why shouldn’t I? Semua orang melakukannya, kenapa saya tidak? Toh kemungkinan untuk ketahuan bahwa kita men-download secara illegal itu sangat kecil sekali. Teknologinya sudah ada kenapa tidak dimanfaatkan?

Etis atau tidaknya men-download itu kembali lagi ke faktor individu, karena digital piracy is the result of decision, dan keputusan individu dipengaruhi oleh banyak faktor yang telah disebutkan di atas, dan masalah etis atau tidaknya itu juga merupakan konstruksi sosial. Jadi, siapa yang lebih kamu dengar? Malaikat atau setan? Jika malaikat maka jangan men-download!

Kita Melawan Mereka?

Bab 3 dari buku karangan Rochester, Pirate of Digital Millenium, mengangkat isu pembajakan dan pelanggaran hak cipta. Perkembangan teknologi dan era digitalisasi telah membuat dua isu tersebut semakin marak dan kompleks.

Di awal bab ada cerita tentang seorang deejay modern yang memainkan musik di sebuah pesta perkawinan. Musik yang dimainkan bukan berasal dari CD atau gesekan piringan hitam, melainkan kumpulan sekitar 3000 lagu (MP3) yang diputar di laptop dengan software keren untuk menyatukannya dalam playlist. Jika ada hadirin yang me-request lagu, maka deejay tinggal menempatkan lagu tersebut di playlist dan kemudian lagu itu akan secara otomatis melantun setelah lagu yang sedang diputar habis. Kebahagiaan dalam pesta tehenti saat empat laki-laki berjaket hitam dan bertulsikan RIAA datang. Mereka menawan deejay beserta laptopnya.

Deejay ditahan karena melanggar dua peraturan, yaitu mengunduh musik yang memiliki hak cipta tanpa membayar royalti dan menggunakan musik dalam acara publik tanpa mempunyai hak untuk melakukannya. Walaupun cerita di atas fiksi, tetapi dapat dilihat adanya konflik antara downloaders versus industri musik.

Konflik tersebut digambar Rochester dalam satu kalimat yang menjadi judul bab ini, yaitu Us Against Them? Atau dalam bahasa kita berarti Kita Melawan Mereka. Lalu, siapa Us dan siapa Them? Us diargumentasikan, termasuk di dalamnya sengaja atau tidak, adalah men-downloaddownload. musik, film, permainan dan piranti lunak tanpa izin, pengganda CD, perusahaan yang menyalahgunakan lisensi piranti lunak, pemalsu piranti lunak dan konten, distributor dan agen yang memperdagangkan materi yang diperoleh dari hasil pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan mungkin semua orang yang menggunakan KaZaA untuk men-

Sedangkan them terdiri dari beberapa camp:

Camp A, adalah mereka yang memiliki derajat “themness” paling tinggi. Dengan kekuasaan dari para anggotanya, mereka mengejar “us”. Camp A termasuk:

  • RIAA (Recording Association of America), mempuyai 1000 label sebagai anggota. Lima di antaranya adalah BMG, EMI, Sony, Universal Music dan Warner Brothers yang menguasai 75% industri musik.

  • The Motion Pictures Association of America (MPAA) adalah kelompok pelobi yang juga sebagai kelompok pendukung untuk penegakan hukum.

  • BSA adalah sebuah asosiasi perusahaan dari Adobe Systems sampai Symantec. BSA memperoleh uang dari para anggotanya, denda lisensi software dan uang yang didapat dari memenangkan kasus pelanggaran lisensi dan pembajakan software di pengadilan.

Camp B, adalah penyedian konten. Di antaranya seperti Disney, Sony dan Microsoft.

Camp C, adalah penyedia teknologi. Baik piranti lunak atau perangkat keras, seperti pemutar MP3, Memory Sticks, jaringan tanpa kabel, sistem internet broadband, dan CD Burners. Yang termasuk camp C: Microsoft, Apple, AOL, Sony yang juga merupakan anggota dari camp A dan B.

Camp D, adalah penyedia layanan internet. Memainkan peran menengah bagi camp A melalui camp C dan pembajak. Karena tanpa tersedianya layanan internet pembajak tidak bisa men-download apapun dari internet.

Camp E, adalah politisi dan pengadilan. Mereka merupakan arbiter dari kehidupan modern yang selalu mencari cara terburuk untuk menangani perubahan teknologi yang cepat.

Us againts Them menggambarkan konflik kepentingan antara industri baik rekaman atau softwaredownload. Tarif yang mahal terhadap produk yang dijual oleh pembuat industri membuat para pen-download menggunakan cara ilegal untuk mendapatkannya.

Ketahanan Individu di Era Globalisasi 3.0

Bagi bangsa eropa, abad ke-15 merupakan abad penuh sejarah. Pada abad ini orang mulai percaya bahwa bumi itu bulat. Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, jika kita ingin ke timur kita bisa mencapainya melalui barat. Asumsi inilah yang kemudian meyakinkan Christopher Columbus bahwa dengan berjalan ke barat ia bisa mencapai India yang ada di timur. Secara geomorfologis bentuk bumi memang tetap bulat. Tetapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seolah-olah membuat bumi menjadi datar.

Dengan adanya internet, satelit, dan telepon, jarak yang begitu jauh terasa dekat. Ratusan satelit yang mengorbit di atas bumi menghubungkan belahan bumi satu dengan belahan bumi lain, merajutnya sedemikian rupa layaknya benang menyatukan jahitan pakaian. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah menghapus batas antarnegara, antarbangsa dan bahkan antarkelas. Pendataran dunia ini tidak lepas dari apa yang disebut sebagai ”globalisasi”.

Jika Bachtiar Alam, antroplog Universitas Indonesia, menganggap globalisasi di Indonesia telah ada sejak zaman Sriwijaya, Majapahit dan bahkan sejak masuknya Hindu/Budha, maka Thomas L. Friedman dalam bukunya ”The World is Flat” menengahi titik awal globalisasi dari ekpedisi Christopher Columbus. Friedman kemudian membagi globalisasi ke dalam tiga level.

Pertama, globalisasi 1.0, pada level ini negara-negara dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Globalisasi 1.0 diwarnai dengan ekspansi suatu negara ke negara lain, yang kemudian dikenal dengan istilah imperialisme dan/atau kolonialisme. Akibat globalisasi 1.0, Inggris menguasai India, Spanyol mengekspansi Filipina dan Indonesia jatuh ke tangan Belanda. Negara-negara Eropa pada khususnya dituntut untuk bertahan hidup dengan mengekspansi negara lain.

Kedua, globalisasi 2.0, pada masa ini perusahaan-perusahaanlah yang dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang, atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Pada globalisasi level ini di negara berkembang, termasuk Indonesia, banyak masuk dan berdiri perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing mencoba bertahan hidup dengan mencari sumber daya yang lebih murah di dunia ketiga.

Ketiga adalah globalisasi 3.0, pada masa ini individu-individu dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Pada globalisasi 3.0 terjadi perpindahan dari globalisasi industri ke globalisasi individual, karena pada masa ini publik sebagai individu dapat berinteraksi secara global. Selanjutnya, lahirlah kelas menengah baru yang merupakan hasil dari pendataran dunia akibat globalisasi 3.0.

Saat ini kita telah memasuki globalisasi 3.0, individu-individu semakin dituntut untuk bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri. Pada globalisasi 3.0 semakin banyak barang dan jasa yang bisa diperdagangkan. Dahulu para teori ekonomi umumnya mengkonseptualisasikan barang dan jasa dunia ke dalam wadah ”dapar diperdagangkan” (tradable) dan tidak dapat diperdagangkan (non-tradable). Pemikiran semacam itu sekarang sudah dianggap ketinggalan jaman karena perkembangan teknologi semakin menghapuskan batas antara ”tradable” dan ”non-tradable”.

Secara tradisional barang apapun yang bisa ditempatkan di kotak dan dikirim disebut tradable, sementara segala sesuatu yang tidak dapat ditempatkan di kotak dan dikirim disebut untradable. Jasa dahulu termasuk ke dalam kategori ini. Namun, sekarang jasa bisa diperdagangkan melalui internet. Anda tidak perlu tatap muka dengan seseorang untuk mendapat pelayanan dari orang yang bersangkutan. Kemajuan teknologi telah membuat konsultasi bisa dilakukan secara online.

Karena semakin banyak barang yang dapat diperdagangkan dan dunia pun berkembang ke arah yang lebih kompleks, maka masing-masing individu perlu berjuang untuk membekali diri mereka dengan serangkaian keterampilan agar dapat terus bertahan hidup di era globalisasi 3.0.

Kaum Tak Terjamah (Untouchable)

Ada aksi ada reaksi, ada sebab maka ada akibat. Semua hal di dunia ini sepertinya tidak lepas dari apa yang disebut dengan causal relationship. Globalisasi 3.0 yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya tidak hanya menghapus batas antara apa yang disebut tradable dan nontradable tetapi tuntutan kepada individu untuk tetap berkembang dan bertahan hidup telah melahirkan kelas menengah baru dan kaum tak terjamah.

Kelas menengah baru adalah mereka yang spesial, dispesialkan dan menetap. Mereka yang mengkolaborasikan dengan orang lain atau mengorkestrasikan dalam dan antar perusahaan. Seorang manajer yang bekerja 24/7/7 – 24 jam sehari, 7 jam seminggu dan 7 benua – adalah contoh individu kelas menengah baru. Dua ciri lain dari kelas menengah baru adalah: pensintesa dan penjelas yang hebat. Pensintesa yang baik membutuhkan penjelas yang baik – yang bisa menjelaskan kompleksitas secara sederhana sehingga dapat melihat peluang dengan baik.

Perubahan ekonomi global tersebut, kemudian menghasilkan orang-orang yang tak terjamah. Friedman membuat tiga kategori untuk mereka ”yang tak terjamah” – untouchable – dalam dunia yang datar ini. Pertama, orang yang istimewa dan istimewakan. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan fungsinya dengan istimewa atau diistimewakan sehingga tidak pernah bisa di-outsource, diotomatisasikan atau diperdagangkan. Contohnya, Michael Jordan, J. K Rowling dan Madonna.

Kedua, mereka adalah orang yang benar-benar ”terlokalisasi” dan ”menetap”. Mereka tak terjamah karena pekerjaan mereka harus dilakukan di tempat yang spesifik, dan mereka yang menetap. Contohnya, tukang pijat, tukang cukur perawat dan tukang masak di dapur. Kategori ketiga bagi mereka yang tak terjamah adalah orang-orang di banyak pekerjaan yang dulunya merupakan pekerjaan kelas menengah, seperti lini perakitan, imput data, dan analisis sekuritas.

Semakin dunia menjadi datar, semakin banyak yang bisa didigitalisasi atau di-oursource, seperti yang dikatakan Nandan Nilekani, CEO Infosys, bahwa dalam dunia yang datar ada yang disebut pekerjaan yang menjamur ”fungible” dan tidak menjamur ”unfungible”. Pekerjaan yang mudah diotomatisasi, didigitalisasi dan di-outsource adalah ciri pekerjaan yang menjamur. Orang-orang yang tak terjamah adalah mereka yang melakukan pekerjaan ”unfungible”.

Jika ingin selamat di dunia datar harus memiliki pengetahuan, keterampilan, ide dan motivasi diri yang tepat. Tidak bisa menjadi orang yang sedang-sedang saja (mediocre). Lalu, jika ingin survive juga harus menjadi orang yang tak terjamah — ”untouchable” – yang berarti tidak dapat di-outsource, didigitalisasi atau diotomatisasikan. Berarti kita harus memiliki pekerjaan kelas menengah baru yang tidak menjamur.

China dan India dan Pendataran Dunia

Dunia ini terus berkembang ke arah yang lebih kompleks, kira-kira begitulah yang ingin diungkapkan Thomas L Friedman dalam bukunya, The World is Flat. Berkat 10 kekuatan pendatar yang membuat dunia menjadi semakin datar; runtuhnya tembok berlin, berkembangnya web, perangkat lunak alur kerja, uploading, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourcing dan steroid; semakin lama akan semakin banyak pekerjaan yang terpecah-pecah.

Spesialisasi merupakan hal yang harus dilakukan untuk dapat terus berkembang dalam dunia yang semakin datar ini. Khususnya dalam bidang tenaga kerja, setiap negara harus menemukan hal-hal yang bisa dispesialisasikan, dengan tetap mendidik dan menumbuhkan keterampilan angkatan kerjanya. Hal ini penting mengingat akan semakin banyak pekerjaan yang terpecah-pecah. Tugas-ugas lebih canggih akan dilakukan di negara-negara maju, sedangkan yang kurang canggih dilakukan di negara-negara sedang berkembang.

Friedman memprediksi bahwa inovasi akan muncul dari China dan India, dengan beberapa produksi, rancangan, dan pemasaran akan di-outsource ke barat. Sepertinya perkiraan itu tidaklah salah karena faktanya, barang-barang elektronik buatan China bertebaran dimana-mana di Indonesia. Kualitasnya memang nomor dua tetapi harganya sangat terjangkau. Contohnya, telepon genggam merek Huawei yang dijual dengan paket esia seharga 199.000 rupiah, merupakan handphone buatan China.

Sepengetahuan saya, jika inovasi China lebih ke barang elektronik maka India inovasinya lebih ke arah teknologi informasi. Berdasarkan pengamatan saya, banyak sekali software-software bajakan yang telah dimodifikasi (lebih bagus daripada aslinya dengan ditambahkan beberapa fitur) adalah buatan orang India. China dan India menemukan cara yang inovatif dan terjangkau untuk menyelesaikan masalah mereka – daya beli rendah akibat pendapatan rendah. Oleh karena itu, mereka berkembang dengan berfokus pada inovasi sendiri yang berbiaya rendah.

Friedman menilai kemajuan orang China dan India ini tidak menjerambab negara maju seperti Amerika Serikat. Justru mengangkat negara-negara maju ke puncak. Karena semakin tinggi China dan India memanjat ke puncak (semakin ingin hidup seperti negara maju) maka akan semakin banyak ruang yang akan diciptakan di puncak karena semakin mereka punya banyak uang makan akan semakin banyak juga yang akan dibelanjakan. Dengan demikian semakin beragam pula pasar produk dan semakin banyak celah diciptakan untuk spesialisasi.

Perkembangan teknologi juga turut andil dalam melahirkan perdagangan bebas. Karena semakin mudah untuk melakukan outsource dan offshore. Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja sangatlah perlu. Hal itu diasosiasikan dengan pandangan ahli ekonomi yang membandingkan masuknya China dan India ke pasar ekonomi global dengan jalur kereta api Amerika Serikat yang menghubungkan California dan New Meksiko. Orang-orang New Meksiko takut jika jalur tersebut akan semakin memudahkan orang California untuk meraih keuntungan disepanjang jalur tersebut. Namun, kemudian modal direlokasi dan akhirnya setiap orang mendapat keuntungan. Yang dapat disimpulkan dariperbandingan tersebut adalah bahwa rasa takut itu baik karena merangsang keinginan untuk mengubah dan menjelajahi serta menemukan lebih banyak hal untu dilakukan secara lebih baik. Intinya jika ingin menang dalam suatu persaingan maka negara dan angkatan kerjanya harus mempunyai keterampilan khusus. Spesialisasi inilah yang mebuat dunia semakin kompleks.

Kaum Tak Terjamah, Hasil dari Pendataran Dunia

Pada abad ke-15 orang mulai percaya bahwa bumi itu bulat. Karena asumsi itu pun Christopher Columbus yakin bahwa dengan berjalan ke barat, ia bisa mencapai India. Namun, perkembangan teknologi komunikasi telah membawa bumi kembali menjadi datar. Perbedaan jarak dan waktu bukan masalah.

Thomas L. Friedman, dalam bukunya ”The World is Flat”, membagi globalisasi ke dalam tiga level. Pertama, globalisasi 1.0, negara-negara dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Kedua, globalisasi 2.0, pada masa ini perusahaan-perusahaanlah yang dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang, atau sekurang-kurangnya bertahan hidup. Ketiga adalah globalisasi 3.0, pada masa ini individu-individu dituntut untuk berpikir global supaya bisa berkembang atau sekurang-kurangnya bertahan hidup.

Pada globalisasi 3.0 terjadi perpindahan dari globalisasi industri ke globalisasi individual, karena pada masa ini publik sebagai individu dapat berinteraksi secara global. Selanjutnya, lahirlah kelas menengah baru yang merupakan hasil dari pendataran dunia akibat globalisasi 3.0.

Kelas menengah baru adalah mereka yang spesial, dispesialkan dan menetap. Mereka yang mengkolaborasikan dengan orang lain atau mengorkestrasikan dalam dan antar perusahaan. Seorang manajer yang bekerja 24/7/7 – 24 jam sehari, 7 jam seminggu dan 7 benua – adalah contoh individu kelas menengah baru. Dua ciri lain dari kelas menengah baru adalah: pensintesa dan penjelas yang hebat. Pensintesa yang baik membutuhkan penjelas yang baik – yang bisa menjelaskan kompleksitas secara sederhana sehingga dapat melihat peluang dengan baik.

Para ahli teori ekonomi umumnya mengkonseptualisasikan barang dan jasa dunia ke dalam wadah ”dapar diperdagangkan” (tradable) dan tidak dapat diperdagangkan (non-tradable). Pemikiran semacam itu sekarang sudah dianggap ketinggalan jaman karena perkembangan teknologi semakin menghapuskan batas antara ”tradable” dan ”non-tradable”. Semakin lama, semakin banyak barang dan dan jasa yang bisa diperdagangkan.

Perubahan ekonomi global tersebut, kemudian menghasilkan orang-orang yang tak terjamah. Friedman membuat tiga kategori untuk mereka ”yang tak terjamah” – untouchable – dalam dunia yang datar ini. Pertama, orang yang istimewa dan istimewakan. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan fungsinya dengan istimewa atau diistimewakan sehingga tidak pernah bisa di-outsource, diotomatisasikan atau diperdagangkan. Contohnya, Michael Jordan, J. K Rowling dan Madonna.

Kedua, mereka adalah orang yang benar-benar ”terlokalisasi” dan ”menetap”. Mereka tak terjamah karena pekerjaan mereka harus dilakukan di tempat yang spesifik, dan mereka yang menetap. Contohnya, tukang pijat, tukang cukur perawat dan tukang masak di dapur. Kategori ketiga bagi mereka yang tak terjamah adalah orang-orang di banyak pekerjaan yang dulunya merupakan pekerjaan kelas menengah, seperti lini perakitan, imput data, dan analisis sekuritas.

Semakin dunia menjadi datar, semakin banyak yang bisa didigitalisasi atau di-oursource, seperti yang dikatakan Nandan Nilekani, CEO Infosys, bahwa dalam dunia yang datar ada yang disebut pekerjaan yang menjamur ”fungible” dan tidak menjamur ”unfungible”. Pekerjaan yang mudah diotomatisasi, didigitalisasi dan di-outsource adalah ciri pekerjaan yang menjamur. Orang-orang yang tak terjamah adalah mereka yang melakukan pekerjaan ”unfungible”.

Jika ingin selamat di dunia datar harus memiliki pengetahuan, keterampilan, ide dan motivasi diri yang tepat. Tidak bisa menjadi orang yang sedang-sedang saja (mediocre). Lalu, jika ingin survive juga harus menjadi orang yang tak terjamah — ”untouchable” – yang berarti tidak dapat di-outsource, didigitalisasi atau diotomatisasikan. Berarti kita harus memiliki pekerjaan kelas menengah baru yang tidak menjamur.

Penyimpanan dan Pendistribusian File Digital

Perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Termasuk dalam cara manusia mengarsipkan atau mengabadikan berbagai materi yang penting dan memiliki nilai historis. Saat ini arsip tidak lagi berbentuk hard copy (materi tercetak) seperti buku, kliping koran atau tumpukan kertas yang tertata rapi di lemari. Arsip juga hadir ke dalam format digital (soft copy) yang tersimpan di CD, DVD, USB Flashdisk atau memori komputer.

Digitalisasi membuat hidup manusia semakin mudah. Jika membutuhkan sumber referensi cukup klik internet dan akan kita temukaan jutaan file digital dalam berbagai format sebut saja PDF, tk3, doc, dan power point. Seperti halnya dengan pengarsipan secara manual (hard copy), penyimpanan file dalam bentuk digital juga memiliki kendala. Di antaranya, kualitas file digital yang berbeda dengan aslinya dan ukuran serta resolusi file.

Buku, kertas, gambar dan materi tercetak lainnya dapat disimpan dalam bentuk digital dengan melakukan proses yang disebut scanning dengan bantuan alat yang namanya scanner. Kualitas file hasil scanning bisa berbeda-beda, tergantung kualitas sumber aslinya (kadang kertas yang sudah lama menguning sehingga tulisan kabur dsb), resolusi scanner yang digunakan dan opsi scanning yang dipilih.

Misalnya, untuk scanner merek HP F 380, resolusi scanner yang bisa digunakan mulai dari 75 ppi (pixel per inch) sampai 19200 ppi. Semakin besar resolusi maka kualitas file digital akan semalin bagus, dan ukuran file juga akan semakin besar. Contohnya, jika kita scan sebuah gambar berwarna dengan resolusi 90 ppi ukuran filenya 2.05 MB maka gambar yang sama dengan resolusi 300 ppi ukurannya akan menjadi 19.65 MB.

Hal lain yang menentukan kualitas file hasil scanning adalah opsi scanning yang dipilih. Misalnya, untuk HP F380, opsi scanning yang tersedia adalah Documents (Color, Gray Scale dan Black and White) dan Picture. Jika kita memilih Black and White maka hasil scanning akan hitam putih dan jika memilih opsi Colour maka hasilnya berwarna. Kita juga bisa menentukan file itu akan disimpan dalam format apa, misalnya jika kita memilih opsi Document maka kita bisa simpan dalam format pdf, txt, html dsb. Sedangkan jika memilih Pictures, format yang tersedia antara lain tif, jpg, png dsb.

Pembeda antara arsip digital dan manual (materi tercetak) selain format dan bentuk file adalah cara pendistribusiannya. Arsip seperti buku, koran atau majalah biasanya tersimpan dalam suatu tempat, dan apabila kita ingin mengaksesnya kita harus datang ke tempat itu. Sedangkan file digital yang terdistribusi melalui internet bisa diakses kapan saja tanpa harus keluar rumah. Selain itu, terkadang arsip yang ada di perpustakaan atau museum arsip nasional hanya bisa dicatat, tidak bisa di-fotokopi atau disimpan. Apabila arsip digital bisa diakses online maka file tersebut bisa kita simpan di memori komputer dan menggunakannya saat dibutuhkan. Walaupun, ada beberapa situs arsip atau jurnal yang tidak bisa diakses sembarang orang, harus berlangganan atau menjadi anggota organisasi tertentu.

Search engine seperti Google dan Yahoo! juga memberi nilai tambah dalam pendistribusian file digital. Dengan hanya mengetik topik yang kita cari di kotak search maka akan muncul file-file yang kita butuhkan. Untuk mempermudah akses pemburu file online terhadap file yang bersifat akademis, google meluncurkan fitur yang disebut Google Scholar, dengan mengetik scholar.google.com akan terbuka halaman search yang akan memfokuskan pencarian file ke file-file akademis.

Kemajuan teknologi telah memberi kemudahan bagi para akademisi pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, dalam mengakses informasi, termasuk arsip dan sumber referensi lainnya. Perkembangan teknologi telah memberi sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan.