China dan India dan Pendataran Dunia
Dunia ini terus berkembang ke arah yang lebih kompleks, kira-kira begitulah yang ingin diungkapkan Thomas L Friedman dalam bukunya, The World is Flat. Berkat 10 kekuatan pendatar yang membuat dunia menjadi semakin datar; runtuhnya tembok berlin, berkembangnya web, perangkat lunak alur kerja, uploading, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourcing dan steroid; semakin lama akan semakin banyak pekerjaan yang terpecah-pecah.
Spesialisasi merupakan hal yang harus dilakukan untuk dapat terus berkembang dalam dunia yang semakin datar ini. Khususnya dalam bidang tenaga kerja, setiap negara harus menemukan hal-hal yang bisa dispesialisasikan, dengan tetap mendidik dan menumbuhkan keterampilan angkatan kerjanya. Hal ini penting mengingat akan semakin banyak pekerjaan yang terpecah-pecah. Tugas-ugas lebih canggih akan dilakukan di negara-negara maju, sedangkan yang kurang canggih dilakukan di negara-negara sedang berkembang.
Friedman memprediksi bahwa inovasi akan muncul dari China dan India, dengan beberapa produksi, rancangan, dan pemasaran akan di-outsource ke barat. Sepertinya perkiraan itu tidaklah salah karena faktanya, barang-barang elektronik buatan China bertebaran dimana-mana di Indonesia. Kualitasnya memang nomor dua tetapi harganya sangat terjangkau. Contohnya, telepon genggam merek Huawei yang dijual dengan paket esia seharga 199.000 rupiah, merupakan handphone buatan China.
Sepengetahuan saya, jika inovasi China lebih ke barang elektronik maka India inovasinya lebih ke arah teknologi informasi. Berdasarkan pengamatan saya, banyak sekali software-software bajakan yang telah dimodifikasi (lebih bagus daripada aslinya dengan ditambahkan beberapa fitur) adalah buatan orang India. China dan India menemukan cara yang inovatif dan terjangkau untuk menyelesaikan masalah mereka – daya beli rendah akibat pendapatan rendah. Oleh karena itu, mereka berkembang dengan berfokus pada inovasi sendiri yang berbiaya rendah.
Friedman menilai kemajuan orang China dan India ini tidak menjerambab negara maju seperti Amerika Serikat. Justru mengangkat negara-negara maju ke puncak. Karena semakin tinggi China dan India memanjat ke puncak (semakin ingin hidup seperti negara maju) maka akan semakin banyak ruang yang akan diciptakan di puncak karena semakin mereka punya banyak uang makan akan semakin banyak juga yang akan dibelanjakan. Dengan demikian semakin beragam pula pasar produk dan semakin banyak celah diciptakan untuk spesialisasi.
Perkembangan teknologi juga turut andil dalam melahirkan perdagangan bebas. Karena semakin mudah untuk melakukan outsource dan offshore. Oleh sebab itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja sangatlah perlu. Hal itu diasosiasikan dengan pandangan ahli ekonomi yang membandingkan masuknya China dan India ke pasar ekonomi global dengan jalur kereta api Amerika Serikat yang menghubungkan California dan New Meksiko. Orang-orang New Meksiko takut jika jalur tersebut akan semakin memudahkan orang California untuk meraih keuntungan disepanjang jalur tersebut. Namun, kemudian modal direlokasi dan akhirnya setiap orang mendapat keuntungan. Yang dapat disimpulkan dariperbandingan tersebut adalah bahwa rasa takut itu baik karena merangsang keinginan untuk mengubah dan menjelajahi serta menemukan lebih banyak hal untu dilakukan secara lebih baik. Intinya jika ingin menang dalam suatu persaingan maka negara dan angkatan kerjanya harus mempunyai keterampilan khusus. Spesialisasi inilah yang mebuat dunia semakin kompleks.